
Prediksi ekstrem rupiah menyentuh Rp25.000 per dolar AS memicu perdebatan di pasar. Di tengah rekor pelemahan rupiah, revisi UU PPSK yang memperluas mandat Bank Indonesia juga menjadi sorotan investor.
Apa dampaknya bagi forex, saham, dan pasar keuangan Indonesia?
Rupiah Kembali Jadi Sorotan Pasar
Setelah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS dan mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah, rupiah kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Kali ini bukan hanya karena pelemahan nilai tukar, tetapi juga munculnya prediksi agresif dari ekonom yang memperkirakan rupiah dapat mencapai Rp25.000 per dolar AS pada akhir 2026.
Prediksi tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan pada pasar keuangan domestik, arus keluar dana asing, serta ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah dan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Bagi trader forex, kondisi ini menjadi pengingat bahwa pergerakan mata uang tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tapi juga kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi dalam negeri.
Ekonom Prediksi Rupiah Bisa Tembus Rp25.000
Ekonom Ferry Latuhihin menilai pelemahan rupiah saat ini bukan sekadar akibat penguatan dolar AS atau konflik geopolitik global. Menurutnya, tekanan terbesar justru berasal dari faktor domestik yang memengaruhi persepsi investor terhadap Indonesia.
Menurutnya, minimnya langkah mitigasi fiskal maupun moneter menjadi salah satu alasan utama prediksi tersebut. Meski demikian, perlu dicatat bahwa ini merupakan pandangan satu ekonom dan bukan konsensus pasar secara keseluruhan. Prediksi nilai tukar sangat bergantung pada perkembangan kebijakan pemerintah, Bank Indonesia, kondisi global, dan arus modal asing.
Mengapa Rupiah Terus Melemah?
1. Arus Keluar Modal Asing
Ketika investor global melihat risiko meningkat, mereka cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Akibatnya:
• Permintaan dolar meningkat
• Permintaan rupiah menurun
• Nilai tukar rupiah melemah
2. Harga Minyak yang Tinggi
Konflik Timur Tengah membuat harga energi dunia tetap tinggi. Bagi Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, harga minyak yang mahal berpotensi:
• Meningkatkan biaya impor
• Memperlebar defisit transaksi berjalan
• Menambah tekanan terhadap rupiah
3. Menurunnya Kepercayaan Investor
Pasar keuangan sangat sensitif terhadap persepsi. Ketika investor mulai meragukan arah kebijakan atau prospek ekonomi suatu negara, arus modal bisa keluar lebih cepat dibandingkan yang diperkirakan.
Pemerintah: Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat
Di sisi lain, pemerintah menilai kondisi ekonomi Indonesia masih cukup solid. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa beberapa indikator utama masih menunjukkan ketahanan ekonomi nasional, antara lain:
• Pertumbuhan ekonomi yang tetap positif
• Inflasi yang relatif terkendali
• Koordinasi berkelanjutan antara pemerintah, Bank Indonesia, dan OJK
DPR Resmi Sahkan Revisi UU PPS
• Menjaga stabilitas rupiah
• Menjaga sistem pembayaran
DPR Bisa Mengevaluasi BI, OJK, dan LPS
Perubahan lain yang menjadi perhatian pasar adalah kewenangan DPR untuk melakukan evaluasi terhadap:
• Bank Indonesia
• Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
• Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
Dampak ke Pasar Forex dan Obligasi
Pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada pasar valuta asing. Pasar obligasi Indonesia juga ikut merasakan tekanan.
Ketika investor asing menjual obligasi:
• Harga obligasi turun
• Yield obligasi naik
• Biaya pendanaan pemerintah menjadi lebih mahal
Kesimpulan
Penafian: Pandangan yang dinyatakan adalah semata-mata dari pengarang dan tidak mewakili kedudukan rasmi Followme. Followme tidak bertanggungjawab ke atas ketepatan, kesempurnaan, atau kebolehpercayaan maklumat yang diberikan dan tidak bertanggungjawab untuk sebarang tindakan yang diambil berdasarkan kandungan, melainkan dinyatakan secara bertulis secara jelas.

Kemas Kini Tarik